Menghitung Pompa

Diawali dengan adanya project untuk membeli beberapa pompa di pabrikku, maksudnya pabrik tempat aku berkerja bukan pabrik milikku ya, maka aku pun harus kembali membaca beberapa buku dan browsing di dunia maya, untuk mendapatkan sebuah pencerahan. Setelah menemukan beberapa buku yang dirasa cocok… aku pun harus berusaha memahami bahasa yang tidak begitu ku fahami…hiks…maklum orang kampung ga bisa bahasa inggris dengan baik.

Prinsip Kerja Pompa

Dari buku yang kubaca, pompa adalah sebuah alat yang sangat penting dalam sebuah pabrik. Pompa ini digunakan untuk melakukan transfer fluida dari satu tempat ketempat yang lain. Kenapa fluida dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain? Hal ini dikarenakan ada energi tambahan yang diberikan ke fluida tersebut, sehingga fluida memiliki kecepatan, atau tekanan yang membuat fluida tersebut bisa bergerak. Peran pompa dalam memindahkan fluida adalah memberikan energi. Energi yang diberikan berupa penambahan kecepatan angular, dengan konstruksi dari pompa makan kecepatan angular tadi dikonversi menjadi tekanan, dan dengan persamaan Bernoulli dapat dikonversi kedalam kecepatan linear.

Banyak orang, atau setidaknya rekan2 ku dikantor memiliki pengertian yang salah tentang pompa. Menurut pemahaman mereka, dan aku dahulu kala, pompa itu bisa menyedot fluida sehingga bisa ditempatkan di atas sumber fluida. Buktinya adalah pompa air di rumah-rumah, sumber fluida ada dibawah yaitu sumur, sedangkan pompa biasanya diatas atau mendekati sumber listrik. Tapi, mungkin ada yang dilupakan pompa air dirumahan biasany diisi dulu air ketika baru dipasang atau akan dinyalakan, sering disebut “dipancing” agar pompa bisa mengeluarkan air. Itulah bukti bahwa pompa tidak bisa menyedot fluida apalagi kalau tekanan sumber lebih rendah dari tekanan

Dalam buku Know and understand Centrifugal Pump dijelaskan bahwa Fluida yang masuk kedalam pompa harus memiliki energi yang cukup. Hal ini disebabkan karena fluida yang masuk ke dalam pompa, akan terperangkap didalam mata impeller dan dengan dorongan motor, fluida akan bergerak dengan cepat sehingga menyebabkan tekanan turun. Apabila fluida inlet tidak memiliki energi yang cukup maka fluida yang masuk pompa akan tersendat hingga akan menyebabkan pompa kavitasi, karena sebagian fluida akan menguap. Penguapan fluida terjadi karena tekanan turun hingga dibawah tekanan uap fluida tersebut. Jadi jelas bahwa pompa itu tidak menyedot fluida melainkan membuat tekanan di impeller eye turun sehingga fluida bisa masuk karena tekanan fluida lebih besar dari pada tekanan di impeller eye.

Bagaimana pompa memberikan tambahan tekanan? Fluida yang terperangkap di dalam impeller eye akan di gerakkan secara cepat oleh impeller hingga fluida bergerak keluar, ingat gaya centripetal dan centrifugal, dengan adanya kecepatan radial tersebut fluida akan bergerak sangat cepat, sesuai dengan persamaan Bernoulli ketika kecepatan tinggi maka tekanan akan turun. Nah, pertambahan tekanan ini terjadi ketika fluida yang memiliki kecepatan radial yang tinggi dibenturkan kedinding pompa atau disebut dengan dinding luar casing volute. Berhentinya kecepatan centrifugal ini menyebabkan tekanan meningkat, dan karena impeller masih berputar, maka fluida yang keluar masih memiliki kecepatan rotasi dan fluida yang terlempar ke dinding volute dipotong oleh yang namanya cutwater sehingga fluida dapat dikirim ke discharge pompa.

Itulah sedikit penjelasan kenapan pompa bisa memberikan tambahan energi agar fluida tersebut bisa ditransferkan.

Desian Pompa

Setelah menjelaskan bagaimana pompa bekerja, kini saatnya beralih untuk membahas bagaimana merancang sebuah pompa. Ini bukan suatu yang mutlak harus dilakukan, tapi merupakan langkah yang biasa aku lakukan untuk mendapatkan rancangan sebuah pompa, jadi bila ada yang punya metoda dan cara yang lebih proven maka dipersilahkan untuk mengkoreksinya.

Dalam merancang sebuah puompa ada beberapa yang harus diperhatikan, seperti tekanan di sumber fluida, friction loss dari system perpipaannya, vapor pressure dari fluida yang dialirkan dan sebagainya. Seperti halnya merancang sebuah peralatan proses, yang pertama harus dilakukkan adalah tentukan properties dari fluida servicenya. Sifat fisik seperti densitas, viskositas, vapor pressure itu mutlak diperlukan dalam merancang sebuah pompa. Ditambah dengan kondisi operasi seperti tekanan dan temperatur.

Karena pompa adalah alat untuk menambahkan energy kepada suatu fluida, maka perlu dihitung dahulu energy yang dibutuhkan untuk mentransfer fluida dari suatu tempat ketempat yang lain. Energy yang dibutuhkan untuk mentransferkan fluida ke tank tujuan adalah

  1. Tentukan tekanan yang masuk kedalam tank tujuan. Tekanan yang masuk ke tank tujuan perlu ditentukan karena jangan sampai fluida yang ditransfer tidak bisa masuk tank karena tekanan tank lebih besar dari tekanan fluida.
  2. Tentukan friction loss diperpipaan. Agar dapat ditentukan tekanan yang hilang selama perjalanan.

Jumlah dari tekanan tank tujuan ditambah dengan friction loss ditambah dengan tekanan yang akan masuk kedalam tank tujuan, adalah tekanan yang harus dibangun oleh pompa.

Setelah menentukan tekanan discharge dari pompa, maka penting untuk menentukan NPHSa, sehingga ketika pompa sudah dibeli, NPSHr tidak lebih besar dari NPSHa. Ada beberapa buku yang menyatakan besarnya NPSHa minimum 110% dari NPSHr, ada juga yang menyebutkan 150% dengan tujuan untuk menghindari kapitasi.

NPSHa dihitung dengan persamaan

NPSHa adalah total tekanan (dalam satuan panjang) yang berada di suction pompa. Hal ini penting untuk diperhitungkan karena berkenaan dengan kinerja pompa. Bila NPSHa lebih kecil dari pada NPSHr maka pompa akan mengalami kpitasi. Beda antara NPSH a(available) dan r(require) adlah NPSHa ditentukan dari system perpompaan dari suction pompa sedangkan NPSHr ditentukan oleh pebrikan dengan menggunakan air.

Sebenarnya untuk pompa sendiri sudah selesai perhitungannya disini. Perhitungan selanjutnya lebih mengenai daya yang dibutuhkan, efisiensi dan sebagainya.

Mari kita lanjutkan ke perhitungan daya, karena daya yang digunakan pompa akan berpengaruh kepada efisiensi dari pompa dan pompa yang harus dibeli.

Tekanan dan flow rate yang dirancang harus berada di 100% BEP. BEP adalah Best Efficiency Point, yaitu titik dimana energy yang digunakan memberikan flow rate terbaiknya. Efisiensi dari sebuah pompa dapat dihitung dengan membandingkan kerja yang dibutuhkan dengan kerja yang digunakan pompa untuk mengangkat air. Rangkuman mengenai efisiensi adalah seperti berikut

Didalam GPSA disebut bahwa WHp(water horsepower) dengan Hydraulic Horsepower adalah sesuatu yang sama. Perhitungan WHp atau Hyd HP dilakukan dengan persamaan berikut

Dengan Q = flow rate (GPM)

H =Head (feet)

Sp.gr = specific gravity water at 60 deg F

Sehingga untuk mendapatkan efisiensi dari sebuah pompa maka tinggal membandingkan WHp dengan BHp.

Selain dengan menggunakan perbandingan antara WHp dengan BHp ada persamaan yang dirasakan bisa lebih mudah digunakan. Tapi, persamaan ini ada batasan dalam penggunaannya. Persamaan tersebut adalah

Persamaan diambil dari rule of thumb

Batasan pada persamaan ini adalah head yang digunakan berkisar antara 50 – 300 ft dan flow rate sebesar 100 – 1000GPM.

Selain dengan persamaan yang disebutkan diatas, penentuan efisiensi pompa dapat ditentukan dengan menempuh jalur yang agak panjang.

Pertama, tentukan dahulu specific speed dari pompa dengan menggunakan persamaan

Pangkat 0.75 digunakan bila single volute bila double volute maka digunakan 1.5. Pentuan RPM ditentukan dengan menggunakan nomograph seperti dibawah.

nomograph penentuan Ns

Setelah mendapatkan NS maka dapat ditentukan efisiensi pompa dengan menggunakan nomograph berikut.

Nomograph single stage single suction

Untuk single maupun double suction akan memiliki specific speed yang identik.

Dengan mengetahui specific speed dari pompa yang dirancang maka dapat keperkirakan besarnya efisiensi dari pompa tersebut. Dengan begitu nilai BHP juga dapa dihitung dengan membagi Hyd power dengan efisiensi pompa.

nah, secara umum perhitungan pompa sudah selesai, tinggal dilanjutkan dengan perhitungan layout impeller dan ukurannya. Tapi untuk menentukan pompa saja saya rasa sudah cukup….

nah bila ada yang baca dan merasa ada yang salah silakan di perbaiki…

About these ads

36 thoughts on “Menghitung Pompa

  1. hmm,, mantabs bngt informasinya kang..
    emang, klo seorang senior PE ga usah di ragukan lagi dech skill nya… trus sebarkan ilmunya kang.. M E R D E K A !!

  2. hehe..kalimatnya itu lho pak..dalem banget…saya kemarin pernah di interview sama bapak dan ke enam rekan bapak..hehehe…:)

    pokonya super lah….cuma saya bingung,,bapak orang sunda tapi lancar bahasa jawa…berarti sudah lama di tuban…:)

  3. pak saya mau nanya : 1.apa manfaat reducer pada suction pompa dan expander pada discharge? 2.apakah ada kaitannya dengan flow pompa? 3.bagaimana cara menghitung, kalau kita mau menggunakan reducer pada suction pompa dan expander pada discharge
    terimakasih atas perhatiannya

    • pak, reducer yang biasa ada di suction atau discharge pompa, yang saya tahu, sangat berhubungan dengan kapasitas dari pompanya. misalkan ada pompa dengan kapasitas 200m3/h akan memiliki suction dan discharge yang mungkin berbeda dengan pompa yang kapasitasnya 20m3/h.

      hal ini mungkin disebabkan adanya perbedaan diameter impeller (untuk suctionnya) dan volute (untuk dischargenya)

  4. ijin tanya pak,,
    misalkan saya punya gedung dgn tinggi 15m. saya ingin menyalurkan air dari tank ke kamar paling atas. itu tekanan air dalam tank penampungan minimal berapa?
    sebelumnya trmaksih…

    • silahkan pak kalau mau berdiskusi. saya belum tentu lebih tahu dari bapak.

      pertanyaannya dikamar paling atas airnya mau nyembur dengan tekanan berapa?
      kalau misalkan bapak tidak menggunakan pompa ya bapak harus membuat tekanan tank bisa mengatasi tekanan hidrostatik hingga kamar teratas. bila menggunakan pompa maka bapak hitung pompanya supaya differential headnya berada sekitar 15mh2O atau kurang lebih 1.5 atm.

      nah untuk tekanan minimal tank tergantung NPSHr dari pompa, misalkan NPSHr dari pompa adalah 1 atm, maka total tekanan sebelum dikurangi loss akibat perpipaan dan hidrostatik tekanan tank harus diatas 1.5 atm

      intinya berapa pun tekanan setelah pompa yang akan diatasi, tekanan tank harus bisa mengatasi loss akibat perpipaan, vapor pressure fluida, dan NPSHr pompa.

      • gak mudeng pak,, (maklum orang awam, bru blajar.. Hhe ^_^)
        gini aja,, msalkan saya punya pmpa untuk menyedt air tanah ke tanki tekanan. dari tangki ini kemudian dialirkan ke kamar paling atas dengan tinggi sekitar 12 meter.
        Nah pertanyaannya berapa tekanan minimum tanki yang dibutuhkan supaya air bisa keluar deras pada kran paling atas?
        yang kedua apakah besar-kecil daya mtor penggerak pmpa ikut menentukan sampainya air ke lantai atas?
        trims

      • ok deh kita sederhana saja
        1. anggap dari tank penampungan ke kamar atas dialirkan menggunakan pompa
        2. maka pompa harus memiliki total head atau defferential head untuk mengatasi 12 m(12mh2O) + tekanan atmosfer (10.33mh2O) =anggaplah totalnya 25mH2O, agar tetap bisa mengalir
        3. anggap loss karena piping di suction pompa = 0mh2o
        4. belilah pompa dengan total head 25mh2o dan NPSHr = 5mh2o
        5. maka tekanan minimal ditank adalah >5mh2o

        besarnya daya motor akan mempengaruhi putaran impeller pompa, tentu setelah dikurangi dengan hilang energi di coupling antara shaft motor dengan shaft pompa, dan hilang energi di motornya sendiri.

        bila dianggap effisiency (hilang energi tadi tetap) maka makin tinggi daya akan makin tinggi juga total headnya.

        semoga membantu…

  5. Pak radiman,
    yang bapak bahas ini adalah pompa yang digerakkan dengan motor listrik, bagaimana dengan pompa yang digerakkan dengan engine? pengaruh putaran engine yang tidak seimbang dengan putaran pompanya? menurut yang saya tau adalah rpm engine harus lebih besar dari rpm pompa? apakah tdk bisa jika sebuah engine dengan rpm 2200 dikopel dengan pompa rpm katakanlah 2700?
    mohon penjelasannya?

    • Pak Robin,
      pada tulisan saya ini, saya tidak membahas prime movernya, hanya pompa.

      perlu diingat pompa memiliki dua kompoenen yaitu Pompanya (yang ada impeller dan fluida didalamnya) dan prime mover (bisa diesel, motor, atau steam turbine).
      setahu saya, engine (saya asumsikan diesel) bisa langsung di kopel dengan shaft impeller dari pompa. tapi semua bergantung dari kebutuhan energi dari pompa tersebut, bila pompa butuh ,misal, rpm impellernya 2000 tapi di pasaran adanya 2500 maka akan dipilih 2500 dengan pemanbahan kopling gigi untuk menurunkan kecepatannya.
      penggunaan enginer dengan RPM lebih rendah dari kebutuhan pompa, mungkin dapat digunakan. tapi harus dihitung lagiapakah dengan mempercepat RPMnya masih memiliki gaya putar yang sama bila menggunakan engine dengan RPM sama atau lebih tinggi? saya pikir kinerja dari pompa akan turun walaupun RPM dari engine bisa dinaikkan dengan kopling. seperti kita naik mobil ditanjakan, RPM mesin harus di turunkan agar mesin punya tenaga yang lebih kuat untuk nanjak…

      semoga membantu.

  6. yang bapak bahas ini adalah pompa yang digerakkan dengan motor listrik, bagaimana dengan pompa yang digerakkan dengan engine? pengaruh putaran engine yang tidak seimbang dengan putaran pompanya? menurut yang saya tau adalah rpm engine harus lebih besar dari rpm pompa? apakah tdk bisa jika sebuah engine dengan rpm 2200 dikopel dengan pompa rpm katakanlah 2700?
    mohon penjelasannya?

  7. pagi,siang,sore atau malam pak
    d tmpat sya bljar pompa ada aktivitas pengecilan diameter impeller,itu di lakukan karena RPM motor berkurang,tapi pak…itu di lakukan tnpa ada nya perhitungan cuma sbtas kira2 saja,
    prtnyaan nya,
    bagaimana prhtungan nya supaya tekanan yg kita ingin trcapai?

    bls d facebook sya saja y pak…
    zakiytiy@yahoo.co.id

    • Selamat pagi,

      maaf baru balas,
      Peruahan Debit, Head (tekanan), BHP dipengaruhi oleh perubahan diameter impeller dan Speed. Semua dihitung dengan menggunakan persamaan Affinitas.
      Untuk menghitung Head dengan perubahan Diameter impeller maka persamaanya adalah H1(N2/N1). bila yang berubah adalah Speed maka persamaannya adalah H1 (D2/D2)^2.

      demikian yang bisa saya sampaikan, semoga membantu. mohon maaf saya hanya balas melalui Blog ini.

      salam,
      adam radiman

      • Pagi pak…

        Sya mw bertanya kebetulan sya mw bwt tgs akhir…

        Menurut bapak buku referensi tntg
        pompa hydrant apa yach…?

      • selamat siang,

        mas sonny, mau mengkaji masalah pompanya atau dari sisi requirement untuk fire pumpnya?

        kalau yang diperlukan adalah mengenai pompanya saya rasa buku-buku pompa yang membahas secara umum cukup, paling ditambahkan mengenai penjelasan hydrant dan requimentnya.

      • Siang juga pak..

        Perhitungan dya fluida
        Perhitungan head loss..

        Perhitungan dya pompa

        contoh bukunya yg lebih actual pengarangya siapa,,?

      • mas sony,

        bila yang distudy adalah mengenai daya dan head loss, mungkin bisa merujuk ke pump handbooknya punya igor karrasik, kalau hydraulic bisa liat buku mechanical fluida atau yang membahas hydraulic untuk pipeline (kebetulan untuk ini saya kurang paham mana buku yang bagus)

        semoga membantu.
        salam,
        adam radiman

  8. Maaf Pak Radiman , ijinkan saya berbagi rumus Menghitung Daya Pump. hehehe.

    1. P (watt) = Q (dm3/min) x H (meter)
    ——————————
    rho (0.85) x 6100 (pasti)

    Dimana : Q : Debit (dm3/min) = Liter/min
    H : Head /tekanan (pa : Pascal) (meter)
    Rho : Effisiensi pompa (%)

    hasil dalam daya dalam watt,konversi ke Kw. (hasil kalikan 0,745)
    misal hasil 25378 W = 25,3 Kw
    rumus diatas saya dapat dari merk pump centrifugal SULZER (ALHSTROM)

    2. P (watt) : SG x H x Q

    Dimana:SG : Specific Gravity air (8,437×10^pangkat 3 N/m3) atau 8437 N/m3
    H : Head (m)
    Q : Debit ( m3/s) , jika dalam m3/h konversi ke m3/s.

    hasil dalam Watt,rubah ke Kw, Misal hasil : 25378 W = 25,3 Kw
    rumus diatas di dapat pada persamaan bernaulli.

    3. P (watt) : Q x H x berat jenis
    ———————– x 1,3
    102 x 60 x 0.8

    Dimana : Q : Debit ( m3/min)
    H : Head (m)
    Berat jenis jika air : 1000
    berat jenis jika buburan : 1020
    102 : pasti
    60 : waktu dalam 1 jam adalah 60 menit
    0.8 : effisienci pompa
    1,3 : pasti

    hasil untuk rumus ke 3 , ada 2 versi P (watt) dan P (kW) jadi silakan anda cek , jika ambil watt —> konversi ke kw. jika ambil kW tidak perlu rubah ke Watt.

    Rumus yg ke 3 agak kurang menurut saya,tp bisa dipakai.

    oia,lupa belum tentu name plate pada pump sama dengan kenyataan,krn tiap ada beberapa pabrikan sedikit nakal dgn membuat suatu spesifikasi pump misal suatu pump dgn specsifikasi Q : 100 m3/h , H : 30 m , n : 1450 rpm , kenyataan nya bisa berbanding terbalik dari semua perhitungan anda bahkan menggunakan persamaan infinity law. mungkin sekedar range atau mendekati saja.

    juga ada lagi yg mau saya share yaitu,cara menentukan Diameter Impeler,Head dari Impeler,velocity fluida dan debit.

    Ini berikut perhitungannya. ‘note : semua perhitungan pakai standart Amerika yaitu Feet dan inch,nanti silakan konvert yak…hehehe” .

    A. Cara menentukan diameter impeler suatu pump.
    jika diket : H : 230 feet dan rpm 2400
    maka Dia.Impeller …?
    dijawab : Rpm / H = 2400 rpm / 230 feet = dia.10″ inch konvert 254mm

    gampangkan,sekiranya mendekati dia.sesungguhnya,bisa di cek di kenyataan.

    B Mencari Velocity (kecepatan aliran) dari impeler :
    V = (2 x g x h )^ pangkat 0.5 “note : pakai kalkulator full scienfix”
    misal : n : 1800 rpm pump dan head 200 ft
    maka , Velocitynya adalah :
    dijawab : V = 2 x g (grafity 32,2 ft/sec2) x 200 ft
    = 113 ft/sec atau 34,44 m/sec

    Oke , sekarang contoh soal saja kiranya.hanya dgn Impeller pump kita bisa menentukan bnyk perhitungan, berikut perhitungannya. (sudah saya konversi ke metric standart hitungan Indonesia)

    Example SOAL : Mari kita asumsikan dia.impeller adalah 8″ inch dgn n : 1500 rpm. dengan dia. pipa inlet (suction) 5″ inch dan outlet pipa (discharge) 4,5″inch, berapa , Velocity,Head,Debit,luas penampang pipa dan kW (kalo kW silakan pilih 3 rumus diatas).

    langkah pertama, tentukan keliling (circumless) dari Impeler pump.

    1. —-> Keliling Impeler : phi x 8″ = 25,13″ konvert ke feet = 2,09 ft

    2. —-> Velocity (kecepatan aliran fluida :

    v = dia. x rpm = 2,09 ft x 1500 rpm = 3135 ft/min = 52,25 ft/sec =
    15,9 m/sec

    3. —-> mencari H (head – m )

    H = V^pangkat 2
    ——
    2 x g

    H = 52,25 ft/sec (saya ambil ft/sec,krn awal rumus pakai stan,amerika)
    —————
    2 x 32,2 ft/sec

    H = 42,65 ft = 13 meter.

    4. —-> Mencari Q (Debit – gpm ‘galon per minute’)

    Q = 449 . V . A

    Dimana = 449 adalah konversi satuan.volume flow rate berikut sehingga didapat 449 , ft/s = 449 gal/min
    —————
    ft^pangkat 3 / sec
    V : Velocity ( ft/sec )
    A : luas penampang area pipa ft^pangkat 2
    dia. 4″inch =
    Diameter inch 4,5″ —–> 0,3750 ft
    Area inch^2 = 15,90 inch^2
    = 0,1104 ft^2

    masukan ke rumus :

    Q = 449 . V . A
    = 449 gal/min x 52,25 ft/sec x 0,1104 ft^2
    = 2590 Gpm

    2590 Gpm konversi ke : 9816 liter/min (dm/min) = 588,98 m3/h = 9,82 m3/min = 0,16 m3/sec

    nah,ketemu kan, sekarang masukan ke salah satu rumus,pakai rumus no.1

    P (watt) = Q x H
    ————
    rho x 6100

    = 9816 liter/min x 13 m
    —————————
    0.85 x 6100

    = 127608
    ———
    5185

    W = 24,611 x Kw
    = 24,611 x 0,745
    = 18,3 Kw

    Sekiranya itu dahulu , jika ada perbedaan itu sudah pasti karena standar daya tiap2 merk pompa selalu tidak bisa sama, setidaknya kita mendapatkan range. itulah mengapa tiap pabrikan pump jarang menyematkan Kw pada name platenya. (biasanya ada tersematkan).

    Demikian dan terima kasih atas diberinya lapak buat saya share…terima kasih bapak ADAM RADIMAN. jika saya salah koreksi ya pak,,,hehehe, yang gede loh pak biar jelas sejelasnya. terimakasih atas kritik yang membangun. Monggo dan Assalamualaikum.

  9. Pak mau nanya nih,,, umpama kita punya pompa motor listrik, dan kita ingin mengetahui tekanan maksimum discharge pompa tersebut, sedangkan parameter yg kita ketahui cuma daya motor, tegangan, dan rpm

    Daya = 11 KW
    Volt = 380
    RPM = 2929

    kira2 bisa ga pak di ketahui berapa Bar tekanan yg dihasilkan pompa tersebut?

    • Mas Di2c,

      kalau mas punya performance curve pasti bisa di ketahui tekanan yang terjadi dengan memplot daya ke kurva. tapi kalau mau dihitung, mas perlu parameter lain selain daya, dan RPM. salah satunya adalah ukuran impeller, flow rate.

      untuk lebih jelasnnya silahkan merujuk ke GPSA.

  10. Waaahh makasih Pa…. Akhirnya nemu juga rumus effisensi….
    Ngomong” bukunya ap Pa yang dipakai, soalny buat daftar pustaka,,,,,,,

    Terimakasih…

    • Alhamdulillah kalau bermanfaat. Buku yang saya rujuk pump handbook igor karrasik. Tapi kalau untuk lebih mudah bisa ngecek gpsa. Bisa dicari google.

    • selamat siang,

      saya tebak anda adalah perempuan jadi saya panggil mba yani ya. mohon di koreksi bila salah.

      setahu saya kavitasi tidak di pengaruhi oleh jumlah sudu dari impeller. kalau karena diameter impeller mungkin terjadi kavitasi, penyakitnya biasa disebut dengan vane passing syndrome. hal ini diakibatkan karena OD impeller terlalu dekat dengan water cutnya sehinga membuat fluidanya mengalami flashing.
      demikian yang saya ketahui.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s