Perencanaan Keuangan

Sering kali kita mendengar seseorang dengan penghasilan besar bahkan puluhan juta tapi pada hari tuanya menderita karena tak memiliki dana untuk keperluannya, atau sebaliknya orang dengan penghasilan biasa saja, pada hari tuanya bisa bersenang-senang menikmati jerih payahnya sewaktu muda.

Apa yang menyebabkan hal itu terjadi? mungkin (ini baru mungkin) karena pada saat mereka masih berpenghasilan besar, mereka lebih sering “mendonasikan” dana mereka ke mall-mall, atau tindakan konsumtif yang tidak perlu.

Sedikit berbagi saja, dari apa yang kudapat dari buku dan acara tv tentang perencanaan keuangan. Mereka (para ahli perencanaan keuangan) sering memberikan petunjuk untuk mengalokasikan dana (gaji) pada dua hal yang pokok. (1). investasi (2) belanja. (garis besar ini berdasrkan kesimpulan saya pribadi lho…).

Investasi ini tidak selalu membuat usaha sendiri, memiliki saham atau sejenisnya. Investasi disini saya definisikan lebih kepada dana yang dialokasikan untuk keperluan tertentu dengan jangka waktu yang cukup panjang seperti dana untuk pensiun, biaya kuliah anak dan sejenisnya. Memang investasi bisa dilakukan untuk menambah penghasilan baik pasif atau pun aktif.

Belanja, ssaya definisikan sebagai kegiatan konsumtif seperti belanja keperluan sehari-hari, membantu keluarga, pokoknya yang bersifat konsumtif yang harus dilakukan setiap hari. Tapi, tidak termsuk kepada gonta-ganti mobil dengan seri terbaru, mengganti HP dengan keluaran yang baru dan lain sebagainya.

Satu hal yang menurutku cukup penting adalah menyediakan dana darurat. Dana ini beda dengan dana yang dialokasikan untuk tujuan yang telah ditetapkan dan dalam jangka waktu yang panjang (investasi yang telah dibahas diatas). Dana darurati ini adalah dana yang dialokasikan untuk keperluan yang tidak pernah kita duga. misalkan kecelakaan, anak sakit yang perlu biaya saat itu dan sejenisnya.

Dana ini jadi penting (menurutku), ketika dana cadangan lain disimpan i tempat yang sulit atau memiliki jangka waktu untuk mencairkannya, seperti deposito, reksadana, saham, dan emas.

Menurut para ahli dana darurat ini besarannya tergantung kepada kondisi kita, apakah membujang, punya istri, punya istri dan satu anak dan sebagainya, akan berbeda satu sama lain. Menurutku mah besaran itu jadi tidak penting ketika kita rutin mengalokasikan sebagian dana kita untuk dana darurat. Besaran itu hanya jadi target yang harus dicapai, dan jadi batasan dana yang harus selalu tersedia yang selalu siap digunakan kapan saja dimana saja. Biasanya besaran ini (saya ambil rata-rata saja) sekitar 3-6 bulan gaji. Apabila bisa lebih ya lebih baik…

Eh….ada yang lupa, biasanya ada orang yang selalu bilang “…waduh penghasilan ku mah sedikit boro-boro untuk menabung untuk kebutuhan sehari-hari aja masih kurang..” sedikit saran dari para Financial Planner, mereka selalu menyarankan untuk menabung dahulu baru belanja. Besarnya dana yang disisihkan dari gaji untuk tabungan bervariasi dari 10% – 30%. Sebagai contoh saya setiap bulan mengalokasikan sekitar 20% dari gaji saya, setelah beberapa bulan berjalan, rasanya nabung itu jadi sebuah kewajiban. Setiap mau belanja barang sekuder atau tersier saya jadi berpikir dana saya masih cukup ga untuk belanja barang primer. Yah. lumayan lah buat berhemat, hehehehehehe……….

udah ah…ceritanya. moga bermanfaat, maaf bila ada yang salah dalam berkata-kata. tetap semangat dan tetap rencanakan masa depan anda (kayak iklan ya..hehehehe….).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s