Fenomena UN

Minggu-Minggu ini berita tv disemarakan dengan berita kampanye capres dan hasil UN. Berita yang membuatku tertarik adalah hasil UN yang menunjukkan banyaknya siswa yang tidak lulus. Aku tidak menyalahkan siapa-siapa disini, aku cuma ingin mengutarakan apa yang aku pikirkan.

Sejak awal ide UN ini di luncurkan begitu banyak yang protes, baik dari siswa atau pun para pengajar. Entah apa yang menjadi mereka protes(aku sendiri tidak tau apa penyebabnya). Yang ada dalam pikiranku adalah, kenapa mereka takut dengan UN kalau mereka telah mempersiapkan semuanya dengan baik? apakah salah pemerintah menstandarkan pendidikan yang diperoleh warga negaranya?bukannya lebih baik bila pendidikan di negeri ini memiliki standar yang sama sehingga akan mudah mengevaluasinya karena ada dasar yang jelas dan sama disemua daerah.

Mungkin (baru kira-kira) para pendidik dan siswa takut mereka ga lulus karena merasa mereka tidak dipersiapkan untuk menghadapi UN dengan baik oleh pemerintah. Yah, ini adalah salah satu bentuk teguran kepada pemerintah dalam masalah pendidikan. Pemerintah harus tahu bahwa pendidikan yang di canangkan dan direncanakannya belum sesuai dengan pelaksanaan yang ada. Ini bisa kerena fasilitas yang tidak merata, kompetansi pendidik yang belum sama dan banyak masalah lainnya.

Kalau dari pandanganku sekarang (aku tidak kampanye ya…) aku melihat bahwa pemerintah mulai mau membenahi pendidikan ini. Gaji para pendidik mulai ditingkatkan , fasilitas pendidikan juga mulai di tambah. walau masih banyak sekolah-sekolah yang rubuh dan sebagainya. Yah, mudah-mudahan semakin baik lagi kedepannya.

Harus diingat oleh semua orang, Pendidikan adalah sebuah investasi masa depan. Lihat malaysia yang cukup maju (atau bahkan terbilang maju) di asia tenggara. lihat masa lalunya mereka begitu banyak mengirim anak negerinya untuk belajar diUniversitas ternama negeri ini. Bahkan mereka ga segan untuk mengeksport guru dan dosen untuk mengajar dinegerinya. Hasilnya adalah sekarang anak bangsa ini (indonesia) banyak yang belajar di Malaysia, singapura dengan merasa pendidikan disana lebih baik dari pendidikan di negeri ini.

Aku jadi teringat dengan kisahku sendiri, Dulu orang tua ku adalah orang yang tidak terbilang punya harta. Bapak ku pedagang souvenir dan ibuku seorang guru sd. Tapi mereka tidak segan untuk mengorbankan harta yang dimilikinya, bahkan harta pemberian Orang tuanya (kakek dan nenekku) untuk membiayai kami bertiga (aku bersama dua kakakku). Mereka tak malu untuk berhutang untuk membiayai kami. Yah, salah satu pendukungnya adalah kakak-kakakku yang bertekad kuat untuk sekolah ditempat terbaik di negeri ini. Alhamdulillah, kami semua lulus dari Perguruan tinggi paling Top Di indonesia. Ini adalah berkat perjuangan dari orang tua yang ingin anak-anaknya menjadi lebiha baik dari kehidupan mereka dan tekad yang kuat dari kakak-kakakku yang ingin mendapatkan pendidikan yang terbaik di negeri ini.

Maka, aku sering herang ketika ada orang tua yang masih bisa merokok tapi bilang tidak sanggup untuk membiayai sekolah anaknya, heran juga ketika da anak orang kaya yang bisa bersekolah dimana saja dia mau tapi putus sekolah karena malas……

ini hanya bisa jadi renungan saja, karena aku tidak bisa mempengaruhi pemerintahan untuk memberikan semua yang diinginkan warga negeranya. ini hanya menjadi bahan untuk dipikirkan ketika kita sudah punya anak agar punya tekad untuk menjadikan mereka lebih baik dari diri orang tuanya.

semoga bermanfaat………..

sumber: dari pengalaman pribadi dan lingkungan yang ada disekitar.

2 thoughts on “Fenomena UN

  1. iya benar, Mas.
    Saya ada pengalaman punya temen
    notabene dia pernah ikut festival rock se-Indonesia dan menjadi juara, bahkan best player (inisial FA) dia ini kalo minta apa saja mesti dituruti ama ortunya.

    namun sayang, kemauannya untuk … katakanlah alergi ama buku pelajaran.
    sangat disayangkan (menurut saya)
    kuliah pindah2 dengan alasan tidak cocok, padahal saya tahu di tempat kost dia selalu dugem.
    sudah tidak terhitung berapa kali FA sudah pindah PT (swasta pastinya)
    mungkin, saya ga su’udzon lo, ntar buat ijazah dia tinggal beli.

  2. yah, itu lah enaknya yang punya banyak uang mas. apapun yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Tapi, perlu waspada, apa yang kita inginkan belum tentu kita butuhkan. Satu hal lagi, dalam memperoleh sesuatu bila disertai dengan berjuang. akan terasa lebih nikmat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s