Sensasi Naik Deborah (Jakarta 1)

Astragfirullah…. Mungkin itu kata pertama yang akan keluar bila ada orang yang bru pertama kalli naik PO Deborah dan gelantungan di pintu. Tentu ini kejadian adalah kejadian nyata, bukan sebuah film yang bisa diulang adegannya bila salah atau terjatuh. Bila penumpang ini jatuh ya tamat lah riwayatnya, atau minimal masuk rumah sakit.

Kejadian ini berlangsung ketika aku pulang kerja hari senin kemarin (27 Februari 2012). Aku terpaksa memaksakan diri pulang dengan menggunakan Deborah, mengingat sebentar lagi magrib, dan istriku yang sedang hamil sendirian dirumah. Ada perasaan takut ketika pertama kali tahu bahwa bis itu sudah penuh sesak. Ketika bis mulai berjalan, datanglah seorang wanita yang memaksakan diri untuk naik yang akhirnya diapun harus bergelantungan dipintu. Ada perasaaan kasian dan kesal pada wanita itu, tapi ya sudahlah. Bis pun sampai di depan gerbang tol lingkar luar Jakarta, hmm….heran sudah terlihat berdesakan hingga keluar, masih ada ibu2 yang maksa naik, tapi untungnya ibu-ibu tadi tidak jadi naik, mungkin sadar kalau dirinya tidak akan sanggup untuk melawan kerasnya ombak yang menerpa….hehehehe….

Sebelum bis mengarungi tol lingkar luar perasaan takut itu pun hingga lagi dalam diriku, apakah sanggup aku menghadapi perjalanan yang berat ini. Terbayang wajah istriku yang cantik, mungkin akan menangis darah bila tahu aku mengalami kecelakaan, terbayang juga calon bayi kami yang masih dalam rahim istriku. Aku pun berdoa kepada Alloh untuk diselamatkan.

Akhirnya aku pun bergelantungan di pintu belakang, keringat bercucuran, rasa pegal di tangan dan kaki terpaksa aku abaikan. Bahkan pegal pun sudah berganti menjadi rasa perih pada tangan dan kakiku. Aku pun bersabar dengan kondisi ini semoga bisa turun dengan selamat.

Puncak ketakutanku pun terjadi ketika bis harus berbelok 180derajat, woo…..w…mengerikan sekali bis pun miring, badan ku pun tertarik gaya sentrifugal hingga keluar dari bis. Alhamdulillah tanganku masih bisa menggengam erat bis tersebut…pengalaman yang mengerikan.

Sungguh luar biasa, siapa yang patut yang disalahkan dengan kondisi seperti ini. Pemilik bis, penumpang atau aparat pemerintah? Aku hanya berpikir pemilik bis hanya memanfaatkan kesempatan yang ada, penumpang yang begitu banyak dibandingkan jumlah armada bis yang ada. Penumpang pun tidak diberi pilihan untuk memilih alat transportasi yang nyaman. Tinggal aparat pemerintah, apakah mereka telah melakukan perannya dengan baik? Wallahualam…hanya mereka yang bisa menjawab.

Semoga tulisan ini menjadi pencerahan bagi semua agar bisa menjalankan perannya dengan baik dan profesional.

One thought on “Sensasi Naik Deborah (Jakarta 1)

  1. hihihihi…idem pak…pertama kali naik debora sekalinya lewat penuh,cuma bisa memandang bingung dan menanti bus selanjutnya, datang bus kedua masih dengan pandangan mencari tempat ternyata gag da.ya lewat, bis ketiga makin penuh,,akhirnya ikut gantungan di pintu sambil berdoa moga2 gag jatuh kluar😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s