Antara Kebutuhan Yang Penting dan Yang Tidak Penting

Beberapa hari yang lalu sebelum perjalanan dinas (keren banget kayak pejabat aja pake perjalann dinas) ke lokasi pekerjaan, aku membaca beberapa twit yang dikirim oleh seorang perencanaan keuangan yang cukup terkenal. Beliau adalah Ahmad Ghozali, beliau memang sering memberikan twit yang berkenaan dengan financial planner dan tentang ke islaman.

Ada yang menarik pada twit beliau pada saat itu, beliau memberikan semacam kuliah tentang membagi kebutuhan yang penting –  tidak penting dan yang mendesak –  tidak mendesak. Seperti quadran yang diajarkan Robert T kiyosaki (maaf kalau salah pengejaan namanya), dalam kultwitnya Ahmad Ghozali membagi kebutuhan menjadi 4 (empat).

Pertama adalah penting – mendesak, kebutuhan ini tidak bisa ditunda lagi seperti sakit. Tidak ada waktu lagi untuk menunda karena berhubungan dengan nyawa manusia, mau ada atau tidak ada dana tetap harus siap.

Kedua adalah Penting – tidak mendesak, tidak mendesak dalam artian kita tahu kapan kebutuhan ini datang misalnya untuk seorang muslim, pergi Haji, atau qurban, karena kebutuhan ini dapat di prediksi kapan datangnnya dan pasti maka dana untuk menutupinya dapat di siapkan jauh-jauh hari.

Ketiga Tidak penting – Mendesak, contoh paling gampang untuk quadran ini adalah membeli barang/gadget yang sedang diskon hanya pada hari itu. membeli gadget baru tidak penting karena masih ada yang lama, tapi kerena kondisinya diskon hanya pada hari itu maka menjadi mendesak.

kempat Tidak Penting – Tidak Mendesak, agak susah memang untuk quadran ini, karena kita terutama saya sering menganggap kebutuhan dan keinginan merupakan sesuatu yang penting. misalnya liburan keluar negeri. menjadi tidak penting karena liburan masih bisa dilakukan di dalam negeri, dan waktunya bisa di tentukan diawal sehingga tidak tidak diburu-buru.

Tapi, satu hal yang dipesankan oleh pak Ahmad Ghozali ini adalah, kebutuhan ini bersifat dinamis terutama untuk kuadran 3 dan 4. Misalnya, agar tidak sakit (kuadran 1) maka perlu liburan, maka kebuthan di kuadran 4 harus diusahakan agar bisa dilakukan,

Nah sekarang hayo ngaku yang pengeluarnya banyak dilakukan untuk kuadran yang 3 dan 4?. Satu hal lagi yang saya dapat dari financial planner lainnya seperti ligwina hananto, yaitu jujur terhadap kemampuan yang ada, kalau hanya mampu liburan ke bogor jangan memaksakan diri untuk liburan ke bali.

Ada beberapa tips yang menurut saya bisa digunakan untuk menghadapi segala kuadran kebutuhan diatas. Pertama untuk menghadapi kebutuhan penting dan mendesak, kita bisa menyisihkan dana dan disimpan pada kondisi darurat, bisa di bilang dana darurat. Bila merujuk ke webnya QMfinancial dana darurat yang dibutuhkan untuk lajang adalah 4 X pengeluaran bulanan, untuk menikah tanpa anak 6X, Menikah dengan 1 anak 8X, menikah dengan 2 anak 12X, pensiun 12X, freelancer 12X. atau bila untuk keperluan sakit bisa menggunakan asuransi untuk menjaganya. Semua kembali ke pada orang yang melakukannya.

Kedua untuk pengeluaran yang sudah tahu waktunya, bisa menyisihkan dana dengan tabungan (disarankan untuk jangka waktu pendek), deposito (jangka waktu tidak lebih dari 3 tahun), reksadana (bisa hingga diatas 10tahun).

Kalau untuk pengeluaran ke tiga dan ke empat, bisa menggunakan dana untuk foya-foya alias konsumsi pribadi agar tidak menggangu cash flow yang lain.

Selamat jujur pada diri sendiri semoga sedikit sharing ini bermanfaat bagi kita semua aamiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s